SRAWUNG FONABA Meriahkan Hari Anak Nasional 2026, Ajak Anak Bantul Peduli Lingkungan dan Cegah Perkawinan Anak

Bantul – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional Tahun 2026, Forum Anak Kabupaten Bantul (FONABA) menyelenggarakan kegiatan SRAWUNG (Sesarengan Anak Rukun Aktif Wutuh Urip Nyawiji Generasi Anak Bantul) pada Kamis (9/7/2026) di Rumah Makan Dapur Cemara, kawasan Wisata Pantai Goa Cemara, Kabupaten Bantul. Kegiatan ini menjadi wadah bagi anak-anak untuk belajar, berpartisipasi, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan perlindungan hak anak.
Kegiatan dibuka oleh panitia FONABA dan dilanjutkan dengan sambutan dari Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kabupaten Bantul, Gunawan Budi Santoso, S.Sos., M.H., perwakilan DP3AP2 Daerah Istimewa Yogyakarta, Zuli Murpuji Astuti, S.S., M.Si., serta Azzakiyah Fitriyati, S.Pd. dari Bidang P2HA DP3APPKB Kabupaten Bantul.
Suasana kegiatan berlangsung meriah melalui sesi ice breaking yang membangun semangat dan kebersamaan para peserta. Setelah itu, peserta mengikuti kegiatan penanaman bibit pandan berduri sebagai vegetasi pelindung kawasan pesisir Pantai Goa Cemara, sekaligus mengunjungi kawasan konservasi penyu untuk mengenal pentingnya pelestarian ekosistem pantai.
Pada sesi materi, peserta memperoleh edukasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan melalui paparan bertajuk "Waktu Luang Hebat, Lingkungan Sehat" yang disampaikan oleh Cahyo Putro Dwi Nugroho, S.T.P. Dalam materinya dijelaskan bahwa Kabupaten Bantul memiliki bentang alam yang beragam, mulai dari kawasan perbukitan yang sejuk hingga pesisir pantai selatan yang memiliki karakteristik gumuk pasir. Di sisi lain, kawasan perkotaan semakin padat akibat pembangunan yang mengurangi ruang hijau sehingga berpotensi meningkatkan suhu lingkungan.
Materi berikutnya mengenai pencegahan perkawinan anak disampaikan oleh Nadia Nusra RR, M.Psi., Psikolog dari Lembaga Psikologi Nawasena. Dalam paparannya dijelaskan bahwa perkawinan anak merupakan perkawinan yang dilakukan sebelum seseorang siap secara fisik, psikologis, sosial, maupun ekonomi. Peserta diberikan pemahaman mengenai berbagai faktor yang dapat menyebabkan terjadinya perkawinan anak, di antaranya kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, kehamilan yang tidak direncanakan, faktor ekonomi, tekanan keluarga, budaya, pengaruh media sosial, putus sekolah, serta kurangnya komunikasi antara anak dan orang tua.
Selain itu, disampaikan pula berbagai dampak perkawinan anak, mulai dari terhambatnya pendidikan, ketidakstabilan ekonomi karena belum memiliki pekerjaan tetap, munculnya permasalahan psikologis seperti stres dan kecemasan, hingga berkurangnya kesempatan untuk mengembangkan potensi diri. Dari sisi kesehatan, perkawinan anak juga meningkatkan risiko kehamilan berisiko tinggi, anemia, persalinan prematur, preeklamsia, serta meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah maupun gangguan pertumbuhan.
Kegiatan ditutup dengan deklarasi pencegahan perkawinan anak yang diikuti oleh seluruh peserta dan pembuatan prakarya untuk meningkatkan kreativitas anak. Melalui kegiatan SRAWUNG FONABA ini, diharapkan anak-anak Kabupaten Bantul semakin peduli terhadap kelestarian lingkungan sekaligus memiliki pemahaman yang baik mengenai pentingnya merencanakan masa depan dengan matang. Sinergi antara pemerintah daerah, keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci dalam mewujudkan generasi anak Bantul yang sehat, berdaya, berkarakter, dan terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan maupun perkawinan anak.