Trauma dalam Perspektif Ilmiah
Trauma bukan sekadar pengalaman menyedihkan. Dalam kajian psikologi dan neurosains, trauma dipahami sebagai respons biologis dan psikologis ketika seseorang menghadapi peristiwa yang mengancam keselamatan atau martabat dirinya.
Ketika seseorang mengalami kekerasan, tubuh secara otomatis mengaktifkan sistem pertahanan fight, flight, or freeze. Otak, khususnya bagian yang mengatur rasa takut dan kewaspadaan, bekerja lebih intens. Hormon stres seperti kortisol dan adrenalin meningkat untuk membantu tubuh bertahan.
Masalah muncul ketika respons ini terus aktif meskipun ancaman telah berlalu. Tubuh tetap berada dalam kondisi siaga. Inilah yang menyebabkan korban trauma sering mengalami:
- Mudah terkejut atau merasa tidak aman
- Gangguan tidur dan mimpi buruk
- Sulit berkonsentrasi
- Kilas balik kejadian
- Kecemasan berlebihan
Secara ilmiah, kondisi ini adalah bentuk adaptasi tubuh terhadap pengalaman ekstrem. Artinya, reaksi tersebut bukan kelemahan pribadi, melainkan mekanisme perlindungan diri.
Dampak Trauma terhadap Fungsi Sosial dan Kepercayaan Diri
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa trauma dapat memengaruhi regulasi emosi, pola pikir, dan cara seseorang membangun relasi. Pada perempuan korban kekerasan, dampak yang sering muncul antara lain:
- Menurunnya rasa harga diri
- Ketakutan untuk melapor atau mencari bantuan
- Kesulitan membangun hubungan yang sehat
- Perasaan bersalah yang tidak rasional
Tanpa intervensi yang tepat, kondisi ini dapat menghambat proses pemberdayaan. Perempuan mungkin memiliki akses pendidikan dan ekonomi, tetapi jika luka psikologis belum pulih, potensi tersebut sulit berkembang secara optimal.
Karena itu, pendekatan perlindungan perlu berbasis pemahaman trauma (trauma-informed approach), yakni pendekatan yang menyadari bahwa korban membawa pengalaman psikologis yang perlu ditangani secara sensitif dan profesional.
Pemulihan Trauma: Proses yang Terbukti Efektif
Secara ilmiah, pemulihan trauma dapat dilakukan melalui beberapa metode, seperti konseling psikologis, terapi kognitif-perilaku, serta dukungan sosial yang konsisten. Intervensi ini membantu:
- Menurunkan respons stres berlebihan
- Membantu korban memahami bahwa ia tidak bersalah
- Menguatkan kembali rasa kendali atas diri sendiri
- Membangun ketahanan mental secara bertahap
Otak manusia memiliki kemampuan neuroplasticity, yaitu kemampuan untuk membentuk pola baru dan pulih dari pengalaman buruk. Dengan pendampingan yang tepat, luka batin dapat diolah menjadi kekuatan. Inilah inti dari penguatan perempuan dari dalam: bukan menghapus masa lalu, tetapi membangun cara baru untuk memandang diri dan masa depan.
Memahami trauma dari sisi ilmiah membantu masyarakat menyadari bahwa korban kekerasan tidak membutuhkan penghakiman, melainkan dukungan. Edukasi tentang kesehatan mental menjadi bagian penting dalam mencegah stigma dan mempercepat pemulihan.
Ketika masyarakat memahami bahwa luka batin memiliki dasar biologis dan psikologis yang nyata, dukungan yang diberikan akan lebih tepat dan tidak meremehkan pengalaman korban.
Akses Bantuan
Jika mengalami kekerasan atau merasakan dampak psikologis yang mengganggu, segera hubungi:
📞 Hotline UPTD PPA Kabupaten Bantul: 0877-3890-7000
Pemulihan bukan sekadar proses emosional, tetapi juga proses ilmiah yang memungkinkan seseorang kembali membangun rasa aman dan kepercayaan diri. Menguatkan perempuan dari dalam berarti memastikan bahwa setiap luka batin ditangani dengan pemahaman, dukungan, dan pendekatan yang tepat.
