MAGELANG – Dinas Sosial PPKB PPPA Kabupaten Magelang menerima kunjungan studi tiru terkait strategi pencegahan dan penurunan stunting. Dalam pertemuan tersebut, Kepala Dinas Sosial PPKB PPPA Kabupaten Magelang, M. Taufik, SH, MH, memaparkan langkah-langkah strategis yang telah membawa Kabupaten Magelang melampaui target prevalensi stunting nasional maupun regional.
Capain Signifikan dan Komitmen Konvergensi
Hingga Februari 2026, Kabupaten Magelang mencatatkan prevalensi stunting di angka 15,85%. Angka ini menunjukkan performa positif karena berhasil berada di bawah target yang ditetapkan sebesar 17,5%, dengan total sasaran intervensi sebanyak 10.714 balita stunting.
Keberhasilan ini didorong oleh Aksi Konvergensi Stunting, sebuah upaya terpadu yang mengintegrasikan berbagai sektor dan tingkatan pemerintahan. Fokus utama program ini adalah intervensi pada rumah tangga dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Langkah ini selaras dengan visi Sapta Cipta ke-2, yaitu "Sehat Wargane", yang menitikberatkan pada dukungan gizi serta akses layanan kesehatan prima bagi ibu hamil dan menyusui.
Pilar Pencegahan dan Inovasi Lokal
Dalam paparannya, M. Taufik menjelaskan empat pilar utama pencegahan stunting di Kabupaten Magelang:
Genting: Optimalisasi Bina Keluarga Balita (BKB) dan penanganan khusus Keluarga Risiko Stunting.
Dashat (Dapur Sehat Atasi Stunting): Pemberdayaan masyarakat dalam penyediaan gizi lokal.
MBG (Makan Bergizi Gratis): Program intervensi nutrisi langsung bagi sasaran prioritas.
Inovasi Kewilayahan: Program kreatif yang lahir dari tingkat kecamatan.
Dua inovasi yang menjadi sorotan dalam studi tiru ini adalah:
Segoro Beras (Sedekah Gotong Royong Bersama Atasi Stunting): Inisiasi TP PKK dan Camat Borobudur yang menggalang sedekah dana dari masyarakat untuk membantu keluarga stunting.
Sesandingan: Program dari Kecamatan Salaman yang mendorong pemanfaatan pekarangan rumah untuk menanam pangan, sayur, dan buah organik. Tujuannya agar keluarga mandiri dalam mencukupi kebutuhan gizi bebas pestisida.

Tantangan dan Solusi Digital
Penerapan program besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) tentu memiliki tantangan tersendiri, mulai dari sinkronisasi data penerima manfaat, kapasitas dapur SPPG, hingga penguatan koordinasi lapangan.
Menjawab tantangan tersebut, khususnya terkait integrasi data yang sempat ditanyakan oleh delegasi Kabupaten Bantul, Kabupaten Magelang menerapkan solusi berbasis teknologi.
"Kami menyusun spreadsheet online untuk menjembatani satu data yang kemudian dikolaborasikan dengan aplikasi Stunting inovasi Dinsos. Hal ini memastikan data tetap akurat dan terpusat," ujar M. Taufik.
Selain itu, terkait kendala teknis pelaporan oleh Tim Pendamping Keluarga (TPK), dinas tetap membuka ruang komunikasi dua arah dan tanya jawab secara intensif jika aplikasi utama mengalami kendala akses. Hal ini memastikan proses pendampingan dan input data tetap berjalan tanpa hambatan birokrasi yang kaku.
Melalui studi tiru ini, diharapkan sinergi antar-daerah dapat semakin kuat dalam mewujudkan generasi emas yang bebas stunting.
