Anak Jadi Tempat Curhat: Apa Dampaknya?

 

“Kamu satu-satunya yang bisa mama percaya.”
“Papa cuma bisa cerita ke kamu.”

 

Kalimat-kalimat seperti ini terdengar hangat. Penuh kepercayaan. Tapi di baliknya, ada beban yang tak terlihat—beban yang dipikul oleh anak-anak yang belum semestinya menjadi penyangga emosi orang tuanya.

 

Ketika Anak Menjadi Penyeimbang Emosi

Dalam banyak keluarga, anak tumbuh bukan hanya sebagai penerima kasih sayang, tapi juga sebagai tempat curhat, pelipur lara, bahkan penenang konflik. Mereka belajar membaca suasana hati orang tua, tahu kapan harus diam, kapan harus memeluk, dan kapan harus “dewasa”—bukan karena mereka sudah matang, tapi karena tidak ada pilihan lain.

Fenomena ini disebut sebagai parentification, yaitu ketika anak mengambil peran emosional atau praktis yang seharusnya dijalankan oleh orang dewasa. Anak menjadi “editor emosi”—menyaring, menenangkan, dan menyesuaikan diri demi menjaga stabilitas keluarga.

 

Dampaknya pada Perkembangan Anak

Menurut Goleman (1995) dan Saarni et al. (1998), emosi adalah energi utama bagi anak untuk berpikir dan bertingkah laku. Ketika anak dipaksa menekan emosinya demi orang tua, mereka kehilangan ruang aman untuk berkembang secara emosional.

Penelitian juga menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dalam pola asuh yang tidak responsif cenderung mengalami kesulitan dalam regulasi emosi, merasa bersalah saat menjaga jarak, dan mengalami kelelahan emosional yang tidak terdefinisikan.

 

“Rasa lelah itu tidak punya nama. Tidak ada ledakan amarah, hanya rasa hampa yang terus muncul.”

 

Mengapa Ini Terjadi?

Ada beberapa alasan mengapa orang tua secara tidak sadar menyerahkan beban emosional kepada anak:

  • Kurangnya dukungan sosial: Orang tua yang tidak punya ruang aman untuk bercerita, menjadikan anak sebagai satu-satunya tempat pelarian.
  • Romantisasi kedekatan: Kedekatan emosional yang tidak sehat sering disamarkan sebagai “ikatan batin.”
  • Pola asuh warisan: Orang tua yang dulu mengalami hal serupa cenderung mengulang pola tanpa sadar.

 

Mengembalikan Peran Anak

Sebagai individu yang sedang belajar, bermain, dan merasa. Bukan sebagai penyeimbang emosi orang dewasa.

Langkah-langkah yang bisa dilakukan:

LangkahPenjelasan Singkat
Validasi Emosi AnakAkui perasaan mereka tanpa membandingkan atau menuntut
Pisahkan Ruang CurhatOrang tua perlu ruang dewasa untuk mengelola emosinya sendiri
Bangun Komunikasi SetaraLibatkan anak dalam diskusi, bukan dalam drama
Edukasi Visual dan NaratifGunakan poster, cerita dan aktivitas yang mengajarkan batas emosional

 

 

Sumber Referensi :